JAKARTA - Sekularisme menjadi tantangan yang harus diwaspadai umat Islam.
JAKARTA - Sekularisme menjadi tantangan yang harus diwaspadai umat Islam. "Ini menjadi tantangan yang semakin menggejala di seluruh belahan dunia," kata Syekh Faraz Rabbani, seorang ahli hukum Islam dari Kanada, dalam acara International Islamic Youth Seminar, di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (22/1).
Untuk menghadapi tantangan sekularisme ini, jelas Rabbani, umat Islam harus terus menjalankan syariah dalam kehidupan modern ini. Sebab, kata dia, syariah panduan yang diturunkan Allah SWT kepada manusia untuk hidup. Syariah berguna untuk mengatur tindakan-tindakan umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Rabbani mengungkapkan, pada masa kuno orang-orang percaya dan hidup dengan agama. Tuhan pada masa itu merupakan pusat kehidupan, baik bagi Muslim, Kristen, maupun Yahudi. Namun, pada zaman modern ini, ujar dia, orang-orang tidak menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan. Ini merupakan masalah yang besar.
Padahal, kata dia, hubungan manusia dengan Tuhan itu setiap waktu. Dan bahkan, Tuhan itu lebih dekat daripada darah yang mengalir pada diri manusia itu sendiri. "Saya juga berharap umat Islam menjalin persatuan dalam menghadapi tantangan sekularisme ini. Agar umat Islam mampu berbuat maksimal," katanya.
Dalam konteks ini, jelas Rabbani, umat Islam harus bersatu untuk melakukan jihad intelektual. Ia mengatakan, jihad ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, antara lain, memperkuat pengetahuan tentang Alquran dan sunah, dan meningkatkan kesadaran intelektual dengan banyak berpikir dan merenung untuk meningkatkan tradisi intelektual umat Muslim yang semakin menurun
Sedangkan langkah lainnya, kata Rabbani, adalah dengan memperdalam spiritualitas keimanan. Itu adalah hal-hal yang perlu dilakukan untuk hidup menurut syariah. Ia pun mengingatkan agar umat Islam tak terlena oleh beragam hiburan yang kian merebak sekarang ini. Bahkan, kini umat Islam diserbu berbagai sarana yang menayangkan hiburan merusak.
Sebelumnya, secara terpisah, Menteri Agama, Suryadharma Ali, mengkhawatirkan munculnya radikalisme gaya baru yang berbasis ideologi kebebasan. Dulu, radikalisme mereka stig-in.ik.in kepada umat Islam radikal dengan berbasis ajaran agama Islam. Sekarang, muncul radikalisme baru yang berbasiskan ideologi kebebasan.
Mereka yang menganut ideologi kebebasan tanpa batas, juga sama. Menganggap dirinya paling benar, orang lain salah. Mereka selalu anggap dirinya benar, orang lain selalu salah. Ini adalah kesalahan terbesar. Tidak ada manusia salah semua, dan tidak ada manusia benar semua. Manusia itu ada salahnya, ada benarnya.
Suryadharma mengatakan, ia ingin mengadu kepada para ulama dan tokoh pendidikan. Kini kelompok yang mengusung ideologi kebebasan itu sedang melakukan gugatan di Mahkamah Konstitusi terhadap kebebasan memeluk agama yang sekarang sudah berjalan. Yaitu, menganut enam agama yang selama ini diakui oleh negara.
Mereka, jelas Suryadharma, tidak menginginkan kebebasan beragama terbatas pada enam agama tersebut.
Menurutnya, mungkin nantinya akan muncul tu-han-tuhan baru, kalau kebebasan beragama seperti yang mereka anut dilegalkan. ed ferry
[source]